Warung Mbok Gembrot The Series #1

Usia Renta, Tak Mau Kalah dengan yang Muda Mengendarai Becak dari Blitar ke Kediri atas restu Ibunda tercinta

Siang ini, jarum jam menunjukkan tepat pukul 11. Cuaca yang panas dengan kondisi suhu dingin membuat suasana di warung Mbok Gembrot menjadi lebih ramai. Karena semua memperbincangkan dua kondisi yang berlawanan. yang satu merasa kepanasan akibat memang cuaca yang lagi terik. Sedang satu lagi menggigil kedingan akibat dari pagi emang suhunya dingin hehe.

Tak luas memang warung Mbok Gembrot, sekitar 3×7 meter persegi lah. Warung sederhana untuk pekerja lapangan. Semisal tukang becak, loper koran, salesman, hingga tukang ojek. Semua berkumpul jadi satu dan berbagi tawa di Warung Mbok Gembrot itu.

Hari ini terasa beda ketika seorang kakek (panggil aja mbah jo) datang dengan kendaraan pribadi dengan roda 3 -nya itu. Saya tak tahu pasti berapa umur Mbah Jo, yang jelas dia mengaku pada Masa Penjajahan Jerman dia sudah menduduki kelas 1 sekolah dasar. “Kulo geh supe le, pas jaman Jerman, Mbah pun kelas 1 SD ,” ujar Mbah jo.

Tak lama dia bercerita perjalanan hidupnya. Ternyata, dia berasal dari Blitar. Padahal, Jarak dari Blitar Ke Kediri itu jauh. yaah, mungkin 30 – 50 kilometer -an lah. Yang anehnya lagi, dia tak pernah kembali ke rumah sejak beberapa tahun yang lalu. Jadi, hidupnya di jalan dan menggantungkan rejekinya pada barang-barang bekas yang kemudian dijual ke pengepul. Jadi, dari situlah dia bisa makan dan hidup di jalan.

Semasa hidupnya, dia pernah menjadi penabuh demung (Salah satu alat gamelan) di sebuah kelompok wayang orang di rumahnya. Tak heran deh, memang banyak orang seni yang hidup di jalan dan menyerahkan seluruh waktunya untuk jalanan. Yang pasti dia masih sehat (Malah sempet dia beli dua batang rokok).

Sempet saya berbincang – bincang dengannya. Dia berkata kepada saya. “Yen urip nek ndi-ndi nggon iku kudu manut karo pituture si mbok (ibu),” ujarnya sambil menasihatiku. Di penutupan terakhir itu, saya mulai memantabkan prinsip hidupku. Setangguh apapun seseorang, tanpa restu orang tua, terutama ibu. Ia akan tetap kalah tergerus jaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s